VSTI, Sarana Kebangkitan Industri Teknologi Musik Indonesia

Kalau kita lihat di layar kaca sehari-hari, setiap pagi kita akan melihat acara seperti dahsyat, inbox, dan banyak lagi acara musik di dalam periode kehidupan pertelevisian kita. Hal-hal seperti ini membuat banyak orang-orang berpikir bahwa, “Wah, hebat ya musik nusantara sudah maju”. Hal itu bener banget πŸ˜€ Musik kita, walaupun tipe musiknya masih belum bisa mewadahi semua kalangan, tetapi sudah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan belakangan ini. Tapi… tidak begitu halnya dengan industri alat musik kita bung. Kenyataannya saat ini, justru kebalikannya yang terjadi.

Dulu, pada sekitar tahun 1990 an. Bandung (kebetulan tempat tinggal saya πŸ˜› ) sempat menjadi salah satu industri alat musik yang cukup besar. Ada beberapa label besar disini seperti Prince, Peavey. Tidak hanya label besar saja, ada beberapa produsen kelas menengah yang karyanya diakui juga di tingkat nasional seperti Genta, Arista, dan Manson. But, now everything has changed 😦 Para pembuat alat musik elektronik (contoh:guitar amplifier) sudah tidak bisa mendapatkan pasokan spare part yang berkualitas lagi. Para pembuat gitar, kesulitan untuk bersaing dengan pasar internasional pada periode 1997-2000 an. Apakah sebabnya ? Simpel, pada waktu itu pergeseran industri ke Cina sudah mulai diikuti oleh para pengrajin alat musik luar negeri. Alhasil, harga produk mereka menjadi murah, spare part berkualitas baik diborong ke Cina, dan akhirnya industri alat musik kita sekarat dan kini sudah banyak yang gulung tikar (Setahu saya Manson dan Prince sudah tutup sekarang).

Mungkin kawan-kawan yang membaca hal ini akan berpendapat, “Yah itu kan di Bandung, di Jakarta mah ga kaleee”. Sayangnya, ternyata dari kontak dengan musisi-musisi dari daerah lain, ternyata keadaannya tidak jauh berbeda. Nah kawan-kawan, keadaan saat ini menyedihkan sekali 😦 Kita terpaksa menjadi konsumen negara asing terus menerus. Kapan nih kita bisa membuat alat musik (berbasis elektronik) kita sendiri ? Tapi mungkinkah itu terjadi dengan ketidak adaannya sumber daya seperti saat ini ? Tenang kawan, saya punya ide mengenai hal ini πŸ™‚

Pada tahun 1996, Steinberg mengembangkan sebuah platform bernama VST (Virtual Studio Technology). VST memungkinkan kita untuk merancang simulator instrumen musik di komputer. VST saat ini sudah canggih dan populer(akhir-akhir ini sering disebut VSTI) di kalangan pemusik manca negara. Nah, kabar baiknya adalah saat ini SDK(Software Development Kit) untuk VST ini sudah dibagikan secara gratis oleh Steinberg. Yang kita perlukan hanyalah mendaftar di Steinberg dan kita boleh mendownload SDK nya gratis tis tis tis πŸ™‚

Apakah VSTI ini berprospek ? Jawabannya adalah sangat πŸ™‚ Mayoritas pemusik modern menggunakan bantuan VSTI untuk berkarya, perangkat lunak seperti ini pun sudah banyak di pasaran dan karena keunikan produknya, terus menghasilkan keuntungan yang besar di belantara musik dunia. Tetapi apakah kita punya kesempatan untuk bersaing ? Jawabannya adalah sangat juga πŸ™‚ Dari sekitar 8 brand amplifier gitar virtual di dunia, ada 1 yang dihasilkan oleh developer bandung (Kuassa), dan kualitasnya tidak kalah dari brand-brand lain yang sudah tenar lho. Ini saatnya kita para pemuda, berkarya dan berinovasi dalam bidang ini kawan πŸ˜€ Mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau pengembang lokal mau melirik peluang ini, Indonesia dapat mandiri secara budaya dan teknologi musik. Secara budaya, kita dapat memromosikan virtual instrumen dari alat-alat musikt tradisional kita ke dunia, dan secara teknologi musik, setidaknya kita sudah dapat memroduksi sendiri, tidak perlu membeli lagi efek-efek mahal dari luar negeri.

Oke, saya yakin kawan-kawan semua sudah bisa mendapatkan pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya. Sekarang, sebagai tambahan terakhir, saya ingin cerita sedikit mengenai duka sebagai developer VSTI. Pengembangan VSTI tidaklah mudah. Dokumentasi tidak terlalu banyak, riset dalam negeri juga masih sedikit, dan komunitas-komunitas pengembang masih terpecah-pecah. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah pengembang kebingungan mencari tempat untuk menunjukkan hasil karyanya sambil mencerdaskan masyarakat mengenai teknologi yang diusungnya. Solusinya ? Sederhana, kita butuh acara-acara seperti Compfest2011, yang dengan exhibition dan IT community gathering-nya potensial untuk menarik para komunitas-komunitas developer VSTI di Indonesia untuk unjuk gigi dan mengembangkan usahanya.

Demikian sharing saya saat ini, semoga ada pembaca yang tergerak untuk ikut mengembangkan teknologi ini. Dan semoga suatu hari nanti, karena jerih payah kita bersama, Indonesia dapat dikenal sebagai salah satu eksportir software VSTI dunia ( yakin, bisa kok πŸ™‚ ).

Sekian. πŸ˜€

N.B. Buat yang lagi di Jakarta dan enggak ada kerjaan, bisa mampir liat-liat ke Compfest πŸ˜›

Referensi :

http://www.steinberg.net/en/company/developer.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Virtual_Studio_Technology

2 thoughts on “VSTI, Sarana Kebangkitan Industri Teknologi Musik Indonesia

  1. Sebagai pengguna vsti *yg gratisan… ane liat sekarang makin mudah aja bikin instrument sendiri. Sayangnya kalau mengandalkan teknologi kadang bisa membuat produksi musik terdengar seperti mesin.

    1. Betul sekali. Tapi untuk beberapa VSTI professional, saya rasa suaranya sudah mendekati asli. But still, can’t replace the real instrument though πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s