Accenture Journey

Accenture
Accenture

Accenture Journey: Refer Your Members

 

Accenture Indonesia is holding its Accenture Journey (previously Accenture Experience) on 14 April 2012.

 

If you know exceptional final-year university students who would be a good fit at Accenture and have the passion for high performance, forward this invite to them and encourage them to be part of this exciting, enriching experience.

 

The one-day competition is designed to guide students on their path after graduation by giving them a glimpse of a Consulting career at Accenture. This is also a chance for them to be acquainted with our company, some of our best people and our high-performance culture.

 

Participants who demonstrate leadership skills, an innovative spirit and a can-do attitude have the chance to be offered positions in our company after graduation.

 

To qualify, students must:

  • Be Indonesian citizens
  • Be high-performing undergraduates currently enrolled in an Indonesian university
  • Be majoring in Computer Science, Engineering and Economics (Accounting, Finance, Business)
  • Be in their final year or 8th semester with a minimum GPA 3.50 out of 4.00
  • Have excellent leadership and interpersonal skills
  • Excellent verbal & written English communication skills
  • Involvement in part-time work or internships is an advantage

 

Requirements:

·         Resume

·         Updated academic transcript

·         500-word essay about “Be greater…”

 

For more details and to apply, visit the Accenture Journey site now.Deadline for application is 25 February 2012. Successful applicants will be notified no later than 5 March 2012.

 

For questions on this event, please email anggri.g.restyanti@accenture.com.

Advertisement

Accenture gives

Accenture Gives

Join this event  and make a difference in your community!

The Accenture Gives: Skills to Succeed competition is giving away a  grant of  IDR 75,000,000 to better enable the winning team to improve its chosen community.

This competition is open to Indonesian students from the following universities: 

  • Universitas Indonesia
  • Institut Teknologi Bandung
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Padjadjaran

Send us your team’s ideas to improve a specific community and get the chance to be awarded a IDR 75,000,000 to implement your project. If chosen, your team will have opportunity to work with and be mentored by Accenture consultants on managing the project.

For more details about this competition and to join, visit www.accenture.com/accenturegives. Registration closes on 17 February, 2012.

Who are we?

Accenture is a global management consulting, technology services and outsourcing company. We have more than 236,000 people in 120 countries and work with clients in nearly every major industry worldwide, including 96 of the Fortune Global 100, more than three-quarters of the Fortune Global 500 and government agencies around the world.


Corporate citizenship is fundamental to Accenture’s character and the way we run business. It is anchored on our core values, our Code of Business Ethics and, ultimately, is reflected in the actions of our people. Skills to Succeed is part of our effort to make a sustainable difference in the long-term vibrancy and passion of people and communities around the world. At the same time, our people give back in a variety of ways to communities where they live and work and around the world.

Dynamic School, Solusi Pembelajaran Masa Depan Indonesia

Kebetulan kemarin ini baru saja ikut kuliah mengenai inteligensia buatan. Ternyata inteligensia buatan itu benar-benar konsep yang asik yah. Sederhana, tapi bisa mengubah dunia dengan signifikan. Mengubah cara pandang konvensional mengenai pemrosesan data dan informasi. Dan yang lebih pentingnya, bisa diterapkan ke berbagai bidang.

Nah, kebetulan baca lomba blogging Technocorner 2011 tentang ide cyber education Indonesia di masa depan kelak. Pertama-tama aku cari tahu apa itu cyber-education, dan ternyata pengertiannya sendiri belum presisi, kesimpulannya adalah pendidikan yang dibantu oleh bantuan sistem komputer. Suddenly, aku terpikir mengenai relevensi data mining kedalam sistem pendidikan Indonesia. Well, sebenarnya pertanyaannya sederhana sih, “Mungkinkah skema agen pintar diimplementasikan di dalam area pendidikan ? ” Dan jawaban dari pemikiran tersebut akhirnya membawaku ke sebuah konsep pemikiran menarik yang aku beri nama Dynamic School.

Jadi, di dynamic school ini, pelajaran dibagi kedalam kursus-kursus. Persis seperti kalau kita kursus komputer atau memasak, kita bisa memilih kursus apa yang kita inginkan. Dasar pemikirannya adalah karena tiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda, sehingga porsi pendidikannya juga harus berbeda dong. Mungkin jadi mirip sistem di kuliah ya 🙂 Nah, yang jadi masalah adalah bagaimana menentukan paket kurikulum yang tepat untuk tiap individu, karena anak kecil, biasanya belum bisa menentukan potensinya secara presisi, sedangkan kapabilitas dirinya paling dikenali oleh dirinya sendiri tentunya. Disinilah peran teknologi, menjembatani kontradiksi ini. Jadi, pada mulanya di tingkat awal perkembangan, anak-anak disuguhi oleh berbagai pelajaran yang beragam, seperti pola TK-SD sekarang ini. Nah, hasil nilai pada beberapa tingkat awal ini, menjadi data mentah yang diproses oleh agen data mining. Hasil keluaran agen berupa pelajaran apa saja yang baik diambil oleh si anak kelak. Dan skema ini akan terus berulang hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi kelak.

Dengan penggunaan teknologi yang tepat, skema ini memungkinkan kita untuk memberi pendidikan yang tepat untuk tiap pribadi, dan dengan demikian membawa kita ke pendidikan yang efektif. Dengan pendidikan yang baik-lah, Indonesia di masa depan dapat tumbuh menjadi Indonesia yang maju dan bersahaja.

VSTI, Sarana Kebangkitan Industri Teknologi Musik Indonesia

Kalau kita lihat di layar kaca sehari-hari, setiap pagi kita akan melihat acara seperti dahsyat, inbox, dan banyak lagi acara musik di dalam periode kehidupan pertelevisian kita. Hal-hal seperti ini membuat banyak orang-orang berpikir bahwa, “Wah, hebat ya musik nusantara sudah maju”. Hal itu bener banget 😀 Musik kita, walaupun tipe musiknya masih belum bisa mewadahi semua kalangan, tetapi sudah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan belakangan ini. Tapi… tidak begitu halnya dengan industri alat musik kita bung. Kenyataannya saat ini, justru kebalikannya yang terjadi.

Dulu, pada sekitar tahun 1990 an. Bandung (kebetulan tempat tinggal saya 😛 ) sempat menjadi salah satu industri alat musik yang cukup besar. Ada beberapa label besar disini seperti Prince, Peavey. Tidak hanya label besar saja, ada beberapa produsen kelas menengah yang karyanya diakui juga di tingkat nasional seperti Genta, Arista, dan Manson. But, now everything has changed 😦 Para pembuat alat musik elektronik (contoh:guitar amplifier) sudah tidak bisa mendapatkan pasokan spare part yang berkualitas lagi. Para pembuat gitar, kesulitan untuk bersaing dengan pasar internasional pada periode 1997-2000 an. Apakah sebabnya ? Simpel, pada waktu itu pergeseran industri ke Cina sudah mulai diikuti oleh para pengrajin alat musik luar negeri. Alhasil, harga produk mereka menjadi murah, spare part berkualitas baik diborong ke Cina, dan akhirnya industri alat musik kita sekarat dan kini sudah banyak yang gulung tikar (Setahu saya Manson dan Prince sudah tutup sekarang).

Mungkin kawan-kawan yang membaca hal ini akan berpendapat, “Yah itu kan di Bandung, di Jakarta mah ga kaleee”. Sayangnya, ternyata dari kontak dengan musisi-musisi dari daerah lain, ternyata keadaannya tidak jauh berbeda. Nah kawan-kawan, keadaan saat ini menyedihkan sekali 😦 Kita terpaksa menjadi konsumen negara asing terus menerus. Kapan nih kita bisa membuat alat musik (berbasis elektronik) kita sendiri ? Tapi mungkinkah itu terjadi dengan ketidak adaannya sumber daya seperti saat ini ? Tenang kawan, saya punya ide mengenai hal ini 🙂

Pada tahun 1996, Steinberg mengembangkan sebuah platform bernama VST (Virtual Studio Technology). VST memungkinkan kita untuk merancang simulator instrumen musik di komputer. VST saat ini sudah canggih dan populer(akhir-akhir ini sering disebut VSTI) di kalangan pemusik manca negara. Nah, kabar baiknya adalah saat ini SDK(Software Development Kit) untuk VST ini sudah dibagikan secara gratis oleh Steinberg. Yang kita perlukan hanyalah mendaftar di Steinberg dan kita boleh mendownload SDK nya gratis tis tis tis 🙂

Apakah VSTI ini berprospek ? Jawabannya adalah sangat 🙂 Mayoritas pemusik modern menggunakan bantuan VSTI untuk berkarya, perangkat lunak seperti ini pun sudah banyak di pasaran dan karena keunikan produknya, terus menghasilkan keuntungan yang besar di belantara musik dunia. Tetapi apakah kita punya kesempatan untuk bersaing ? Jawabannya adalah sangat juga 🙂 Dari sekitar 8 brand amplifier gitar virtual di dunia, ada 1 yang dihasilkan oleh developer bandung (Kuassa), dan kualitasnya tidak kalah dari brand-brand lain yang sudah tenar lho. Ini saatnya kita para pemuda, berkarya dan berinovasi dalam bidang ini kawan 😀 Mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau pengembang lokal mau melirik peluang ini, Indonesia dapat mandiri secara budaya dan teknologi musik. Secara budaya, kita dapat memromosikan virtual instrumen dari alat-alat musikt tradisional kita ke dunia, dan secara teknologi musik, setidaknya kita sudah dapat memroduksi sendiri, tidak perlu membeli lagi efek-efek mahal dari luar negeri.

Oke, saya yakin kawan-kawan semua sudah bisa mendapatkan pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya. Sekarang, sebagai tambahan terakhir, saya ingin cerita sedikit mengenai duka sebagai developer VSTI. Pengembangan VSTI tidaklah mudah. Dokumentasi tidak terlalu banyak, riset dalam negeri juga masih sedikit, dan komunitas-komunitas pengembang masih terpecah-pecah. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah pengembang kebingungan mencari tempat untuk menunjukkan hasil karyanya sambil mencerdaskan masyarakat mengenai teknologi yang diusungnya. Solusinya ? Sederhana, kita butuh acara-acara seperti Compfest2011, yang dengan exhibition dan IT community gathering-nya potensial untuk menarik para komunitas-komunitas developer VSTI di Indonesia untuk unjuk gigi dan mengembangkan usahanya.

Demikian sharing saya saat ini, semoga ada pembaca yang tergerak untuk ikut mengembangkan teknologi ini. Dan semoga suatu hari nanti, karena jerih payah kita bersama, Indonesia dapat dikenal sebagai salah satu eksportir software VSTI dunia ( yakin, bisa kok 🙂 ).

Sekian. 😀

N.B. Buat yang lagi di Jakarta dan enggak ada kerjaan, bisa mampir liat-liat ke Compfest 😛

Referensi :

http://www.steinberg.net/en/company/developer.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Virtual_Studio_Technology

Some Facts That I Found On My Industrial Sociology Assignment [Traffic in Bandung]

Suddenly I remember about my course on Industrial Sociology last year. My group is investigating “why people keep broke the traffic law all the time” (the truth is of course it is about incentive and predicted value, but this is sociology not economic lecture, so be it then 😛 ) In this investigation, I got several interesting fact :

  1. Bicycle rider tend to broke the traffic law because they tend to think that traffic law is only applied to vehicle with engine like car and motorcycle, there’re simply no rule for bicycle.
  2. Police is getting stricter right now. Even our public vehicle driver informant told us that now he can’t bribe the police anymore. Wow, it’s a new information to me, and it is a good news 😀
  3. Interviewing police officer is very hard. They tend to be afraid, to speak their opinion. Because of this, I must go to Bandung police central in Merdeka Street.